Tampilkan postingan dengan label Catatan Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Organisasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2026

Menjadi serikat pekerja tentu tidak mudah. Apalagi kalau harus memperjuangkan kepentingan pekerja sekaligus menjaga hubungan baik dengan manajemen. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan luar biasa: berbicara atas nama pekerja, tetapi jangan sampai membuat manajemen merasa sedang diajak bicara.

Idealnya, serikat pekerja memang menjadi jembatan antara pekerja dan perusahaan. Namanya juga jembatan, tentu harus berdiri di tengah. Tidak terlalu condong ke satu sisi, apalagi sampai lupa bahwa di ujung satunya ada pekerja yang sedang menunggu untuk diseberangkan.

Menariknya, dalam praktik hubungan industrial, terkadang ada serikat yang begitu cepat memahami sudut pandang manajemen. Bahkan sebelum pekerja selesai menyampaikan keluhan, jawabannya sudah tersedia: “Kita harus memahami kondisi perusahaan.”

Sungguh luar biasa.

Pekerja baru bertanya, serikat sudah menjelaskan alasan perusahaan. Pekerja baru mengeluh, serikat sudah menyampaikan pentingnya efisiensi. Pekerja baru meminta kejelasan, serikat sudah membantu menerjemahkan kebijakan manajemen menjadi sesuatu yang terdengar sangat masuk akal.

Kalau terus begini, mungkin suatu hari pekerja tidak perlu lagi bertemu manajemen.

Cukup bertemu serikat.

Tentu saja, memahami kondisi perusahaan adalah hal yang baik. Bagaimanapun, pekerja dan perusahaan berada dalam satu ekosistem. Perusahaan sehat, pekerja juga punya ruang untuk berkembang.

Namun, sesekali mungkin tidak ada salahnya serikat juga mencoba memahami kondisi pekerja.

Karena kalau setiap kebijakan perusahaan selalu dianggap benar, setiap keberatan dianggap kurang memahami situasi, dan setiap kritik dianggap mengganggu keharmonisan, kita mungkin perlu membuat definisi baru tentang istilah “independensi serikat pekerja.”

Bukan berarti serikat harus selalu berseberangan dengan manajemen. Tidak juga.

Serikat yang baik bukanlah serikat yang hobinya berkata “tidak”. Tetapi rasanya juga agak unik kalau jawabannya selalu “iya”.

Sebab, dalam hubungan industrial yang sehat, serikat pekerja bukanlah lawan perusahaan, tetapi juga bukan tim komunikasi perusahaan.

Serikat adalah mitra yang sesekali boleh berbeda pendapat.

Bahkan, kalau suatu hari serikat menyampaikan kritik kepada manajemen, semoga tidak dianggap sebagai bentuk ketidakloyalan. Barangkali itu justru tanda bahwa serikat masih menjalankan fungsi utamanya.

Lagipula, kalau serikat pekerja sudah terlalu pandai menjelaskan mengapa kebijakan manajemen itu baik, jangan-jangan yang perlu diperjuangkan berikutnya adalah jabatan baru: “Juru Bicara Manajemen dari Unsur Pekerja.”

Tentu saja ini hanya satire.

Selebihnya, biarlah anggota pekerja sendiri yang menilai: apakah suara yang mereka dengar masih suara mereka, atau sudah terlalu nyaman menggunakan mikrofon milik pihak lain.

Selasa, 18 Agustus 2026

Ada sebuah sistem yang konon sangat menghargai prestasi. Semua orang diberi kesempatan untuk berkembang, karier dibangun berdasarkan kinerja, dan promosi diberikan kepada mereka yang dianggap paling layak. Setidaknya demikian bunyi narasinya.Dalam praktiknya, ternyata ada mata pelajaran tambahan yang tidak pernah tertulis dalam penilaian kinerja: ilmu membaca kedekatan.


Di sini, bekerja dengan baik memang penting. Tetapi mengetahui siapa yang harus didekati tampaknya jauh lebih penting. Kompetensi tetap diperlukan, tentu saja. Minimal untuk membuat keputusan terlihat masuk akal. Selebihnya, kedekatan bisa membantu mempercepat proses. Maka tidak mengherankan jika ada orang yang bertahun-tahun mengumpulkan prestasi, pengalaman, dan tanggung jawab, tetapi masih harus antre di belakang seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menjaga hubungan dengan orang-orang yang tepat.Bukan berarti ada yang salah dengan hubungan baik. Justru hubungan baik sangat penting. Hanya saja, jika hubungan baik mulai menjadi ukuran utama kelayakan, mungkin istilah merit system perlu diperbarui menjadi "merit, plus siapa kenal siapa."

Menariknya lagi, di dalam sistem seperti ini selalu muncul kelompok dengan kemampuan khusus. Mereka tidak selalu menjadi orang yang paling produktif, tetapi sangat memahami seni membuat atasan merasa bahwa dirinya adalah orang paling penting di ruangan. Pujian diberikan pada waktu yang tepat. Persetujuan datang sebelum pertanyaan selesai. Ide atasan selalu menarik. Keputusan atasan selalu strategis. Bahkan mungkin suatu hari kesalahan atasan pun bisa disebut sebagai "strategi pembelajaran".

Kemampuan seperti ini tentu tidak bisa dianggap remeh.

Tidak semua orang mampu mengubah kebiasaan mengangguk menjadi kompetensi kepemimpinan.

Sementara itu, orang-orang yang masih percaya bahwa pekerjaan seharusnya berbicara melalui hasil mulai terlihat seperti kelompok yang kurang memahami permainan. Mereka terlalu sibuk bekerja, terlalu banyak bertanya tentang alasan, dan terlalu percaya bahwa prestasi akan berbicara dengan sendirinya. Sayangnya, prestasi memang bisa berbicara.

Tetapi rupanya ia tidak selalu punya akses masuk ke ruang tempat keputusan dibuat.

Di sisi lain, kepemimpinan pun memiliki definisi yang semakin menarik. Pemimpin yang baik seharusnya mampu memilih orang berdasarkan kemampuan, memberi ruang kepada kritik, dan memastikan keputusan dapat dipertanggungjawabkan. Namun dalam sistem yang kurang sehat, kepemimpinan kadang berubah menjadi seni menjaga kenyamanan.

Jangan terlalu banyak bertanya.

Jangan terlalu kritis.

Jangan membuat orang tertentu merasa tersinggung.

Dan yang paling penting, pastikan semua orang tetap terlihat bahagia meskipun sebagian sudah diam-diam bertanya-tanya, "Sebenarnya ukuran untuk maju di sini apa?" Pertanyaan itu tentu tidak perlu dijawab terlalu serius. Sebab jawaban resminya selalu sama: kinerja, kompetensi, integritas, dan profesionalisme.

Jawaban tidak resminya mungkin lebih sederhana: tergantung Anda berdiri di sebelah siapa.

Yang paling lucu adalah ketika kondisi seperti ini kemudian menghasilkan orang-orang yang sangat ahli berbicara tentang budaya, nilai, integritas, dan keadilan.

Kamis, 26 Februari 2026

Dulu, ketika saya menempuh pendidikan pascasarjana, ada seorang guru alumni pendidikan dari Jepang yang selalu mengingatkan satu pesan sederhana namun sangat mendalam: “Utamakan adab daripada ilmu.” Setiap kali beliau mengajar, kalimat itu selalu diulang. Saat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin bertambah usia dan pengalaman, saya semakin memahami betapa besar maknanya.


Jika kita melihat sistem pendidikan di Jepang, sejak pendidikan usia dini hingga sekolah dasar, penekanan utama bukan hanya pada kecerdasan akademik, melainkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat. Pendidikan karakter menjadi fondasi sebelum ilmu pengetahuan diberikan secara mendalam. Tidak heran jika Jepang sering menjadi rujukan dunia dalam hal pendidikan karakter.

Sesungguhnya, nilai-nilai tersebut bukan hal baru bagi kita. Dalam ajaran Islam, adab telah diajarkan jauh sebelum konsep pendidikan karakter modern berkembang. Para ulama terdahulu bahkan menempatkan adab di atas ilmu. Ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, bahkan berpotensi disalahgunakan.

Belakangan ini, dunia akademik kita diuji oleh berbagai peristiwa yang memprihatinkan. Beberapa waktu lalu, terjadi tindakan kekerasan di sebuah kampus ternama di Riau, tepat menjelang prosesi ujian akademik. Saya menyebutnya sebagai tindakan keji bukan untuk menghakimi atau mengabaikan asas praduga tak bersalah, melainkan karena tindakan kekerasan—dalam bentuk apa pun—tidak memiliki tempat di lingkungan akademik. Kampus adalah ruang menuntut ilmu, tempat bertumbuh, berdiskusi, dan mengembangkan potensi diri. Kekerasan dan teror jelas bertentangan dengan nilai luhur pendidikan.

Coba bayangkan jika korban adalah saudara kita, keluarga kita, atau bahkan diri kita sendiri. Tentu kita akan merasakan betapa tidak dapat diterimanya peristiwa tersebut. Karena itu, refleksi ini penting: ada yang perlu kita perkuat kembali dalam dunia pendidikan kita, yaitu adab dan karakter.

Masa remaja dan masa kuliah adalah fase emas kehidupan. Pada masa inilah kita memiliki waktu, energi, dan kesempatan yang luas untuk:

  • Mengembangkan potensi diri
  • Aktif berorganisasi untuk membangun relasi dan jejaring
  • Mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal
  • Belajar dari kesalahan dan terus bertumbuh

Setiap kesempatan yang kita ambil sejatinya adalah investasi untuk masa depan. Ketika persiapan bertemu dengan kesempatan, di situlah lahir golden moment—momen emas menuju kesuksesan.

Namun ingatlah, kesuksesan sejati bukan hanya tentang gelar, jabatan, atau kekayaan. Kesuksesan adalah ketika ilmu yang kita miliki membawa manfaat, bukan mudarat. Ketika keberhasilan kita tidak melukai orang lain. Ketika posisi yang kita capai tetap dibingkai oleh integritas dan empati.

Kini, ketika saya diamanahkan menjadi seorang dosen, pesan itulah yang selalu saya sampaikan kepada mahasiswa:

"Dalam hidup, adab lebih utama daripada ilmu.

Karakter lebih penting daripada jabatan dan kekayaan."


Ilmu bisa membuat seseorang pintar.

Adab membuat seseorang pantas dihormati.

Ilmu membuka pintu kesempatan.

Karakter menjaga kita tetap layak berada di dalamnya.

Untuk Generasi Z—generasi yang hidup di era digital, serba cepat, dan penuh distraksi—tantangan terbesar bukan hanya menjadi cerdas, tetapi menjadi bijak. Bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan moral.

Mari kita bangun budaya akademik yang sehat: saling menghormati, berdialog dengan santun, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, dan berkompetisi tanpa menjatuhkan.

Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.

Dunia membutuhkan orang-orang berkarakter.

Rabu, 10 September 2025

Beberapa waktu terakhir, demonstrasi besar kembali mengguncang jalanan Nepal. Ribuan warga—kebanyakan anak muda—turun ke jalan, marah dan muak terhadap pemimpin mereka yang dinilai gagal, korup, dan hidup dalam kemewahan di tengah kesengsaraan rakyat. Gaya hidup hedonis, flexing kekuasaan, dan ketidakpekaan terhadap krisis ekonomi memicu gelombang protes yang tak bisa dibendung. Nepal kembali terjerumus dalam ketidakstabilan politik dan sosial.

Apa yang terjadi di Nepal bukanlah hal yang unik. Justru, ini adalah cermin yang mengarah lurus ke wajah Indonesia hari ini.

Ketika Rakyat Tak Lagi Tahan Melihat Pemimpin Hidup dalam Kemewahan

Nepal selama beberapa tahun terakhir dikecewakan oleh elite politik yang sibuk memperkaya diri sendiri, bukan memperbaiki nasib rakyat. Ketimpangan merajalela, pengangguran tinggi, dan harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Di tengah itu semua, gaya hidup elite yang memamerkan mobil mewah, rumah megah, dan pesta-pesta eksklusif menjadi bahan bakar kemarahan publik.

Demonstrasi pun meledak. Istana dikepung. Kepercayaan publik runtuh.

Tragisnya, sebagian pemimpin di Nepal bahkan seolah hidup di dunia lain—mengabaikan sinyal bahaya yang datang dari rakyat sendiri.

Tanda-Tanda Itu Sudah Terlihat

Indonesia seharusnya tidak merasa aman-aman saja. Gejala serupa mulai muncul di sini. Ketika rakyat bergelut dengan kenaikan harga beras, susah mencari kerja, dan akses pendidikan makin mahal, sebagian elite justru sibuk pamer kekayaan, dari mobil listrik puluhan miliar, jam tangan ratusan juta, hingga liburan mewah ke luar negeri.

Bahkan, di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi publik, muncul tren baru: flexing kekuasaan. Jabatan publik dipamerkan seperti medali, bukan amanah. Gaya hidup pejabat dan anak-anaknya menjadi bahan olok-olok dan kemarahan netizen, tapi pemerintah seolah tidak mendengar.

Dan ketika kritik disampaikan, justru rakyat yang dikriminalisasi.

Demonstrasi di Indonesia Bukan Lagi Soal Isu Tunggal

Aksi-aksi protes di Indonesia, baik yang dilakukan mahasiswa, buruh, petani, maupun masyarakat adat, bukan lagi sekadar soal kebijakan tertentu. Di balik semua itu, ada akumulasi kekecewaan: terhadap ketimpangan, terhadap ketidakadilan, dan terhadap gaya kepemimpinan yang kehilangan empati.

Jika kita tidak hati-hati, Indonesia bisa mengarah ke titik yang sama seperti Nepal: kehilangan kepercayaan publik, munculnya krisis sosial, dan instabilitas politik yang panjang.

Pemimpin Harus Jadi Contoh, Bukan Simbol Kemewahan

Nepal membuktikan bahwa gaya hidup elite yang tidak berpihak pada rakyat akan berujung krisis. Indonesia seharusnya belajar dari itu. Pemimpin bukan hanya dinilai dari kebijakan di atas kertas, tapi juga dari gaya hidup dan nilai-nilai yang mereka tunjukkan ke publik.

Di tengah kesenjangan ekonomi dan tekanan hidup, rakyat butuh pemimpin yang hidup sederhana, yang hadir di tengah mereka, yang tidak menjadikan jabatan sebagai panggung, tetapi sebagai tanggung jawab.

Arah Indonesia Ditentukan Hari Ini

Kita bisa menunggu sampai kemarahan rakyat memuncak seperti di Nepal. Tapi itu adalah pilihan yang ceroboh. Lebih bijak jika kita melihat demonstrasi di Nepal sebagai peringatan dini—bahwa arah Indonesia harus dikoreksi sekarang, bukan nanti.

Pemimpin Indonesia harus memilih: menjadi simbol harapan rakyat atau menjadi simbol krisis yang akan dikenang dengan kemarahan.

Kamis, 28 Agustus 2025

Di atas kertas, Indonesia disebut sebagai negara hukum dan demokrasi. Namun dalam praktiknya, hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil, tapi justru menguntungkan segelintir elite politik dan korporasi besar. Janji keadilan sosial tinggal slogan kosong, diucapkan setiap musim kampanye, lalu dilupakan begitu kekuasaan berada di tangan.

Ekonomi pun tak kalah kacau. Harga kebutuhan pokok melonjak, lapangan kerja kian sempit, dan ketimpangan semakin menganga. Rakyat dipaksa bertahan hidup dalam sistem yang memiskinkan mereka secara struktural, sementara para pejabat sibuk merayakan proyek-proyek besar yang tidak menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Di satu sisi rakyat diminta hidup sederhana, di sisi lain anggaran dihamburkan demi citra dan kepentingan politik.

Aparatur penguasa, yang seharusnya melayani rakyat, justru sering bersikap sewenang-wenang. Kritik dibungkam, suara-suara yang menyuarakan kebenaran dianggap ancaman, dan hukum digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan alat keadilan. Ketika kekuasaan lebih sibuk menjaga kenyamanannya sendiri daripada mendengar jeritan rakyat, kita tahu bahwa demokrasi kita sedang sakit.

Namun semua ini bukan akhir. Masih ada jalan keluar
asal kita mau melihat lebih jernih dan bergerak bersama. Solusinya bukan tambal sulam, tapi perombakan menyeluruh dan terstruktur:

  • Perbaikan sistem demokrasi yang berkeadilan, di mana suara rakyat benar-benar dihargai, bukan hanya dijadikan angka pemilu. Transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas pejabat harus menjadi prinsip utama dalam pemerintahan.
  • Perbaikan ekonomi yang terstruktur dan inklusif, yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. Kebijakan fiskal dan anggaran harus berpihak pada pengentasan kemiskinan, pembangunan UMKM, dan kemandirian desa.
  • Pendidikan yang berkompetensi dan relevan, bukan sekadar penghafalan tanpa makna. Pendidikan harus membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman, bukan hanya menjadi pekerja dalam sistem yang timpang.

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar tapi sering kekurangan keberanian untuk berubah. Dan perubahan tidak datang dari atas, tapi dari bawah: dari rakyat yang sadar, bersatu, dan menolak tunduk pada sistem yang timpang.

Senin, 11 September 2023

SYAIR NASIB MELAYU

Karya Tenas Effendy


Sesama sebangsa kita berpesan

Janganlah suka memakan teman

Loba dan tamak kita jauhkan


Supaya kekal tali  persaudaraan.


Hiduplah rukun sama *sebangsa Tenggang menenggang rasa merasa

Berkuasa jangan paksa memaksa

Kaya jangan menjual bangsa.


Bangsa kita bangsa berbudi

Di atas kebajikan dia berdiri

Kenyangnya tidak seorang diri

Peluang dan rezeki sama di bagi


Kepada pendatang kita ingatkan

Mencari nafkah jangan menghabiskan

Fikirkanlah nasip penduduk tempatan

Supaya hidup tidak bermusuhan


Para pendatang hendaklah ingat

Orang Melayu menjunjung adat

Jangan diajar dengki maksiat

Supaya semua hidup selamat


Para pendatang hendaklah sadar

Bahwa Melayu pantang dicabar

Jauh kan sikap aniaya dan makar

Supaya Melayu tak hilang sadar.


Para pendatang hendaklah faham

Bahwa Melayu kebanyakan islam

Jangan dibuat perangai haram

Supaya Melayu tidak mendendam.


Para pendatang jangan lah melagak

Menunjukkan kuasa dan harta banyak

Pantang Melayu kepalanya di injak

Sekali melawan banyak yang rusak.


Pepatah Melayu sudah mengingatkan

Pantang ikan ia kekeringan

Pantangan manusia ia dipermalukan

Pantangan Melayu ia dihinakan


Walaupun Melayu suka beralah

Lebih kurang sedikit tidak masalah

Tetapi jangan kepalanya dilapah

Amuknya bangkit berkuah darah.


Walau Melayu hatinya lembut

Terhadap pendatang bermanis mulut

Tetapi jangan haknya direbut.


Melayu pun sanggup menghadapi maut...

Senin, 08 Mei 2023

Keadilan adalah salah satu prinsip yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan adil tanpa terkecuali. Namun, seringkali ada hal-hal yang menghalangi tercapainya keadilan, seperti diskriminasi, prekarsa, ketidakadilan sistematis, dan lain-lain. Oleh karena itu, setiap orang harus bersama-sama berusaha untuk meluruskan jalan dan mewujudkan keadilan.

Luruskan Jalan Berarti Menciptakan Kesetaraan

Luruskan jalan adalah sebuah ungkapan yang bermakna memberikan kesetaraan hak dan perlakuan yang sama untuk semua orang. Ini artinya setiap orang memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, hak-hak sosial, dan lain sebagainya. Jadi, meluruskan jalan adalah cara untuk menghilangkan diskriminasi yang terjadi dalam kehidupan sosial.

Luruskan Jalan Berarti Memberikan Kesempatan Yang Sama

Keadilan juga berarti memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang. Ini artinya setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi mereka, terlepas dari latar belakang, ras, agama, gender, atau orientasi seksual mereka. Dengan memberikan kesempatan yang sama, kita akan menciptakan lingkungan yang merangkul keragaman dan memungkinkan setiap orang untuk meraih impian dan tujuan mereka.

Luruskan Jalan Berarti Menghargai Hukum

Sistem hukum adalah hal yang penting untuk menjaga keadilan dalam masyarakat. Tidak ada yang diatas hukum, dan hukum harus diterapkan dengan adil dan objektif untuk semua orang. Meluruskan jalan juga berarti memastikan bahwa hukum ditegakkan dengan adil, tanpa diskriminasi dan tanpa pengaruh dari kekuatan lainnya.

Luruskan Jalan Adalah Tanggung Jawab Bersama

Meluruskan jalan dan menciptakan keadilan adalah tanggung jawab bersama. Setiap orang harus aktif dalam memperjuangkan hak-hak mereka dan hak-hak orang lain. Kita harus berbicara dan bertindak dengan jelas dan terbuka tentang diskriminasi, ketidakadilan, dan penindasan, serta memberikan dukungan untuk orang-orang yang memerlukannya. Kita harus terus belajar dan mendidik diri kita sendiri dan orang lain tentang pentingnya keadilan.

Kesimpulan

Meluruskan jalan dan mewujudkan keadilan adalah penting untuk menciptakan masyarakat yang adil dan berkeadilan. Ini memerlukan kesetaraan hak dan perlakuan, kesempatan yang sama, serta penerapan hukum yang adil dan objektif untuk semua orang. Ini juga memerlukan tanggung jawab bersama dari setiap orang untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan hak-hak orang lain serta berbicara dan bertindak dengan jelas dan terbuka tentang ketidakadilan yang terjadi. Marilah kita bersama-sama meluruskan jalan dan mewujudkan keadilan dalam kehidupan sosial kita.

Minggu, 17 Juli 2022

Mendekati 2024, suasana politik sudah sangat terasa, sebetulnya ada apa dengan 2024, tentu hampir semua warga negara Indonesia sudah tau, yakni pesta demokrasi 5 tahun sekali. Pemilihan presiden republik Indonesia. Lalu calon presiden seperti apa yang akan dipilih?


Dari survei yang dilakukan, banyak nama yang keluar atau layak untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Ada nama Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Prabowo Subianto, Kofifah, dan sebagainya. Jika dilihat dari latar belakang nya macam macam. Ada yang kepala daerah, menteri dan sebagainya. Latar belakang pendidikan pun demikian, kenapa latar belakang ini penting, karena ini berpengaruh sekali terhadap pola berpikir seseorang.

Orang-orang tua Melayu selalu menyampaikan sesuatu dengan petatah petitih, apalagi dalam memilih pemimpin. 

Gajah mati tulang setimbun.

orang besar/kaya yang meninggal/berakhir akan meninggalkan banyak harta/karya pusaka. Nah, jika boleh kita kaitkan dengan calon presiden seperti apa yang akan dipilih? Kita lihat saja track record dari beberapa nama tersebut, misalnya kalau Prabowo Subianto yang presiden, kira kira Indonesia nanti seperti kementerian yang dipimpin nya sekarang, jika Kofifah seperti Jawa timur sekarang, kalau Ridwan Kamil seperti Jawa barat, jika Ganjar Pranowo seperti Jawa tengah hari ini, pun demikian jika Anies Baswedan wajah Indonesia kedepannya tak jauh dari wajah Jakarta hari ini.

Ingat, orang besar yang meninggal/jabatan berakhir, akan meninggalkan banyak harta/karya, setelah pemimpin tersebut berakhir, maka bisa dilihat peninggalan kepemimpinan nya. Dan seperti apa kedepannya.

Minggu, 26 September 2021

Melihat kondisi politik hari ini, baik di daerah maupun ditingkat nasional sering kita melihat ada campur tangan, namun anehnya kita tidak melihat siapa orangnya, tapi bisa dirasakan. Akhir akhir ini ada pengakuan dari seorang presiden yang sangat terkenal, yakni presiden ILC yang mengatakan bahwa penyebab ILC dibubarkan karena ada intervensi. Siapa yang tidak kenal dengan presiden ILC, satu republik saya kita pasti tau. 


Selain itu juga presiden ini memiliki watak yang kritis, namun argumentatif. Sekelas ILC saja bisa dibubarkan, bahkan rating TV yang paling tinggi, acara yang paling banyak disukai. Bagaimana nasib yang lain? Di akun YouTube nya, ia menjelaskan ada campur tangan banyak penguasa di republik ini. Siapa itu? Itulah oligarki, tidak terlihat namun bisa dirasakan. Lalu apa itu oligarki?

Oligarki adalah sebuah struktur pemerintahan dimana kekuasaan berpusat hanya pada sekelompok orang. Seringkali golongan ini mengendalikan kekuasaan sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Menurut Aristoteles, oligarki, yang makna literalnya dapat diterjemahkan menjadi ‘kekuasaan oleh segelintir orang,’ merupakan manifestasi pemerintahan yang buruk. Oleh karena sifatnya yang elitis dan eksklusif, terlebih lagi biasanya beranggotakan kaum kaya, oligarki tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat luas dan yang membutuhkan.

Sederhana nya, oligarki itu kekuasaan yang ikut serta dalam kekuasaan yang lain, demi kepentingan pribadi atau kelompok, tidak nampak namun dirasakan. Oligarki ini mirip dengan orang ketiga dalam rumah tangga, hehe. Ada kelompok yang memainkan peran kepentingan di rumah tangga sehingga rumah tangga tersebut sulit dikendalikan bahkan hancur. 

Suatu negara juga bisa berantakan akibat campur tangan oligarki, karena kepentingan kelompok tertentu. Oleh karenanya pemimpin suatu negara harus kuat, baik secara politik, visi yang jelas maupun kekuasaan.

Minggu, 15 Agustus 2021

Sebuah catatan ditengah kegelisahan, kegelapan keadaan, dimana seperti kehilangan arah dan tujuan. Sebenarnya bukan tujuan itu yang hilang, tapi jalan menuju tujuan itu yang dihadapi begitu banyak rintangan.

Sejarah

Dimulai dari sebuah sejarah, dalam catatan sejarah, belum pernah kepemimpinan yang sukses, kekuasaan yang bertahan bahkan rumah tangga yang harmonis tanpa melihat, mendengar, dan membaca sebuah sejarah kehidupan. Kenapa penting, karena sejarah mengajarkan kita tentang sebuah peradaban.

Masalah hari ini

Masalah hari ini adalah masalah yang pernah terjadi dimasa lalu, masalah yang pernah terukir di waktu yang telah dilalui. Kepemimpinan misalnya, kepemimpinan akan berhasil jika orang yang dipimpinnya satu visi dengan sang pemimpin. Masalah hari ini bukan tidak mengerti visi, melainkan visi itu digerogoti oleh tangan kekuasaan, oligarki, bahkan pecundang keberhasilan. Hal biasa berbeda visi dalam sebuah kekuasaan, asal tidak saling menghujat. Hal lumrah berbeda dalam menempuh perjalanan, asal tidak saling menyikut di saat perjalanan. Lantas apa yang menyatukan pikiran? Pikiran hanya bisa disatukan dengan pikiran.

Jangan menghambat orang berfikir

Jangan dengan perbedaan pikiran, perbedaan aliran, perbedaan pemahaman lantas membuat kita tidak bersatu. Alangkah baiknya bisa menarik benang merah mari kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati, lalu berlapang dada dalam hal yang kita berbeda. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berfikir dan menentukan pilihan jalan pikiran.

Lalu bagaimana menyatukan pikiran? Menyatukan pikiran dengan memiliki satu tujuan. Ketika telah disepakati bersama dengan satu tujuan, jaga komitmen tujuan itu, agar sampai ke pulau tujuan, pulau harapan. 

Kurangi kekuasaan, perbanyak ilmu pengetahuan. Tujuan hanya akan dirasakan dengan persatuan.

Kamis, 29 Juli 2021

Masih dalam suasana menjalani hidup dengan lingkungan yang pandemi, baik di lingkungan sekitar kita, lingkungan kantor kita, maupun dalam lingkungan negara kita. Dalam suasana ini, banyak sekali dilema yang harus dijalani, baik maupun buruk sama sekali.


Barangkali kita bisa melihat kondisi di lingkungan sekitar kita, begitu banyak cobaan bahkan tidak kurang mereka harus mengorbankan nyawa demi mempertahankan kehidupan. Namun, dalam kondisi seperti ini kita harus sadar.

Sadar akan Bersyukur

Kenapa kita harus sadar akan bersyukur, dimana disaat orang lain telah banyak yang menyerah dengan keadaan kita masih bisa bertahan. Masih bisa bertahan untuk makan, masih bisa bertahan untuk mencari mencukupi kebutuhan kehidupan. Masih bisa menjalankan ibadah meski harus dirumah. Masih bisa sekolah mesti dilakukan dengan virtual, masih bisa bekerja walaupun sebagian dari rumah (work from home). Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.

Sadar lagi berjuang

Selain harus bersyukur, disisi lain selain menjadi agen atas syukur karena nikmat yang tuhan berikan. Kita harus berjuang, setelah sekian lama kita menikmati keindahan, kebahagiaan, dan kenyamanan kehidupan yang Allah SWT berikan kepada kita baru beberapa waktu diberikan ujian dengan pandemi, lantas kita harus menyerah? Sekali lagi kita harus sadar bahwa kita lagi berjuang. Berjuang mempertahankan kehidupan, berjuang untuk mendapatkan keinginan yang dicita-citakan. Bahkan berjuang untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT agar kita selalu mengagungkan kebesaran Allah.

Sadar akan ujian

Dengan asyik nya berjuang, tentu banyak rintangan, halangan, dan tantangan yang harus dijalani. Rintangan harus mengikuti protokol kesehatan, halangan yang harus dilalui meski harus melawan arus, dan tantangan bahwa kita harus sadar bahwa kita hidup di kehidupan baru. Melainkan kita harus sadar, bahwa ini adalah ujian. Lalu harus kah kita menyerah? Bukankah disetiap mendaki itu didepannya ada lembah? Bukankah disetiap akan melihat lembah, kita akan melihat dari ketinggian bahwasanya kita berada di puncak? Dari puncaklah kita melihat bahwa perjalanan di perjuangkan itu akan terasa manis, bahwa kita pernah berjuang.

Minggu, 20 Juni 2021

Jika kita melihat perkembangan politik beberapa minggu belakangan banyak perihal yang perlu di ulas, bukan hanya sekedar untuk melihat, tapi ini persoalan yang secara naluriah sulit kita menerima nya.


Ada beberapa hal yang perlu di ulas, 

Soal keberangkatan haji 

Sudah bisa dipastikan bahwa keberangkatan haji untuk musim haji 2021 telah dibatalkan, ini berarti sudah 2 tahun Indonesia berturut-turut tidak akan melaksanakan rukun kelima Islam tersebut. Berbagai pandangan dan perspektif mengenai pro kontra tersebut, tapi saya berpandangan bahwa yang memegang otoritas seperti lempar batu sembunyi tangan, kenapa? Karena tidak ada usaha yang maksimal untuk mendapatkan izin haji, ini dibuktikan dengan surat klarifikasi dari pemerintah Saudi melalui duta besar nya.

Kedua, gelar profesor

Dalam hal ini juga banyak kalangan yang pro kontra, kenapa? Karena banyak keanehan yang terjadi. Sebelum kita membahas nya, saya Ingin sampaikan begini. Kita harus bedakan mana jabatan akademik mana gelar akademik. Kalau gelar akademik harus ditempuh dengan jalur akademik, misalnya SD, SMP, SMA/SMK, S1, S2, dan S3 yakni doktor, doktor adalah gelar akademik yang tertinggi yang diraih secara akademik. Sedangkan profesor adalah jabatan akademik yang diberikan oleh kampus kepada seseorang yang memiliki pengetahuan yang luas dan luar biasa. Yang secara keilmuan diakui dan bisa dipertanggungjawabkan. Secara aturan yang berlaku di Indonesia, syarat nya minimal sarjana. Belum lagi kita telusuri paper yang diterbitkan oleh sicalon penerima gelar tersebut apakah terindeks Scopus atau tidak, berdasarkan penulusuran saya terindeks Sinta pun tidak. Jangan sampai karena ada siasat, menggunakan tangan orang lain untuk mendapatkan keinginan pribadi.

Wallahualam Bissawab

Kamis, 10 Juni 2021

Akhir akhir ini sering kali kita melihat baik publik figur, pemimpin, politisi maupun tokoh-tokoh yang berbeda pandangan tentang sesuatu hal. Baik berbeda dalam ide, gagasan maupun dalam praktek.


Baik itu demensi agama, sosial, ekonomi maupun politik. Semakin banyak orang, maka semakin banyak pandangan tentang sesuatu hal tersebut. Yang jadi pertanyaan apakah dengan berbeda pandangan kita musti Berpecah Belah, harus nya tidak, justru dengan berbeda pandangan la kita semakin kaya, dan semakin banyak ide serta gagasan yang bisa didiskusikan. Ada beberapa alasan logis mengapa berbeda pendapat dengan orang lain adalah hal yang tidak perlu dibawa sampai ke hati.

1. Setiap orang pasti memiliki pola pikir yang berbeda-beda

Tidak dapat dimungkiri bahwa setiap orang pasti memiliki pola pikir yang berbeda dalam menganalisis sebuah peristiwa. Hal tersebut yang dapat membuat perbedaan pendapat itu lumrah terjadi dan tidak bisa diganggu gugat.

2. tidak bisa memaksa orang lain untuk setuju dengan pendapat kita

Sebelumnya telah disebutkan bahwa setiap orang itu memiliki pendapat yang berbeda-beda. Hal tersebut juga mencerminkan bahwa kita tidak bisa semena-mena mengajak orang lain untuk memaksanya agar sependapat dengan kita karena itu sangat keliru.

3. Dengan berbeda pendapat bisa belajar tentang pentingnya menghargai.

Jangan jadikan perbedaan pendapat dengan orang lain sebagai alat untuk menghancurkan tali silaturahmi. Cobalah untuk berpikir lebih bijaksana dan jadikan perbedaan tersebut menjadi sarana agar dapat saling menghargai satu sama lain. Perbedaan pendapat dapat menyebabkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. 

4. Setiap orang pasti memiliki seseorang ataupun tokoh yang dijadikan panutan.

Perbedaan pendapat dalam kehidupan sehari-hari dapat timbul karena setiap orang pasti memiliki tokoh atau panutannya sendiri. Kamu pasti juga memiliki hal tersebut 'kan? Tokoh panutan biasanya sangat memengaruhi pola pikir seseorang. Terkadang seseorang cenderung menjalani hidup menggunakan motivasi yang berasal dari mulut panutannya. Banyak juga orang yang membenarkan suatu hal berdasarkan pola pikir panutannya. Hal tersebutlah yang membuat perbedaan pendapat lumrah terjadi

Minggu, 16 Mei 2021

Hidup manusia tidak akan pernah lepas dari masalah dan ujian. Karena dari sanalah kualitas seorang manusia bisa terlihat. Perbedaannya, ia bisa mengatasi masalah dengan baik atau justru semakin terbenam bersama masalah tersebut.


Besar kecilnya masalah tak lepas dari kondisi pikiran. Terkadang tanpa disadari sebuah masalah kecil bisa menjadi besar karena pikiran kita mengkondisikan seperti itu.

Karena itu, ketika masalah sedang menghampiri pastikan pikiran kita tidak terbawa arus yang ada dalam masalah tersebut.

Ingat juga, tak ada masalah yang tanpa solusi. Kita hanya butuh pikiran yang jernih untuk mengetahui cara menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi dan membelit hidup Anda.

1. Meminta Maaf dan berjanji tidak mengulangi.

Salah satu cara yang paling ampuh untuk mengatasi masalah dalam hidup yakni dengan meminta Maaf dan berjanji untuk tidak melakukan kembali. Dengan meminta maaf, tanda bukti bahwa kita berkomitmen untuk selalu berusaha untuk lebih baik lagi kedepannya.

2. Temukan Akar Permasalahan

Kita juga tidak bisa menemukan cara paling tepat dalam mengatasi masalah hidup jika belum menemukan akar permasalahannya. Coba telisik lebih dalam dan sedikit menoleh ke belakang, bagaimana awal mula masalah tersebut bisa muncul. Bisa jadi masalah muncul dari hal-hal yang tak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Hal-hal yang selama ini Anda pikir baik-baik saja, ternyata justru menjadi pemicu masalah.

3. Lihat dari Sudut Pandang yang Lain

Boleh jadi ketika masalah menghampiri, kita hanya terpaku dengan pandangan dan cara berpikir kita sendiri. Ada baiknya, kita coba keluar dari sudut pandang lain.

Cara ini akan membuka pikiran kita bahwa masalah tersebut tidaklah seberat yang kita pikir.

Misalnya, saat bertengkar dengan pasangan, pasti ada banyak ego yang muncul. Saat itu, masing-masing pihak bersikukuh dengan sudut pandang mereka. Itulah yang membuat pertengkaran kerap sulit mencapai perdamaian.

Karena itu, ketika hati dan pikiran sudah lebih tenang, cobalah melihat dari sudut pandang orang lain. Kita pasti akan menemukan sesuatu yang berbeda.

Sesuatu inilah yang harus dipahami sehingga bisa sama-sama menemukan solusi yang paling pas.

4. Berpikir Positif

Kita tidak akan bisa menemukan cara mengatasi masalah ketika pikiran masih dipenuhi hal-hal negatif. Saat prasangka buruk memenuhi pikiran dan hati, maka kita hanya akan menemukan jalan yang gelap. Bukan jalan terang yang bisa membimbing mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi.

Tak ada masalah dengan masalah, yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menyikapi sebuah masalah.

Sabtu, 15 Mei 2021

Mumpung masih suasana lebaran, biasanya sesama muslim saling bersilaturahmi dalam rangka merayakan hari raya dan hari kemenangan bagi yang selama satu bulan telah melaksanakan puasa Ramadhan. Dengan merayakan hari yang Fitri ini, esensial nya kita kembali ke titah sejati, ke lahiriah nya manusia itu sendiri.


Lalu apa yang membedakan antara ramadhan tahun lalu, ramadhan sekarang, dan ramadhan yang akan datang. Sebetulnya banyak yang harus kita kembalikan ke prinsip dasarnya, diantaranya etika dan moral.

Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Sedangkan moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak). Sekarang kita bahas satu-satu. 

Etika, sering kita melihat dari seseorang tentang bagaimana menerapkan benar atau salah dalam kehidupan nya. Biasanya ini masih terlihat, mudah kita membedakan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang baik mana buruk, dan tanggung jawab semua tentang itu, berarti kita sudah punya etika. Makanya untuk menguji etika masih bisa dengan ujian tertulis, nama nya uji etik. Disisi lain, ada yang lebih penting dari etika, yakni moral. 

Moral pada dasarnya adalah perilaku, perilaku tidak bisa dinilai dengan kasat mata, tapi perilaku itu bisa dirasakan. Moral juga tentang hal dasar atas pengetahuan, bisa dilihat dengan semakin baiknya pengetahuan, maka semakin baik moralitas nya. Contoh, ketika kita bertamu, si penerima tamu melayani tamunya dengan sebaik-baiknya. Mulai dari salam, mempersilakan duduk, makan dan sebagainya. Dan yang luar biasa nya lagi tamunya ditemani makannya, bahkan ada yang nasinya di ambilkan, ini sangat luar biasa sekali moralitas nya. 

Nah, disisi lain juga ada tipikal orang yang cuek, tak peduli. Apakah tipikal bisa disebut tidak bermoral, belum tentu. Bisa jadi secara sifat yang seperti ini cuek, tapi tau menghargai orang lain. Sikap saling menghargai juga memiliki moralitas yang tinggi. 

Yang lebih naifnya, sudahlah cuek, tidak peduli tak bisa menghargai. Contoh perilaku yang seperti ini misalnya. Ketika seseorang berbicara di podium, pendengar bercerita dengan teman sesama pendengar. Yang lebih celaka nya lagi, di pendengar ambil hp, nonton, apalagi sambil ketawa-ketawa, wah itu bukan tidak punya moral lagi, tapi sudah di atasnya. Sudahlah tidak beretika, tidak bermoral lagi.

Mumpung momen idul Fitri, kembali la ke jalan yang sudah Allah SWT tentukan. sikap saling menghargai itu penting, dan yang lebih penting nya lagi memiliki etika dan moralitas yang tinggi, karena banyak orang yang pintar tapi tak bermoral, tak ada gunanya. Banyak yang bermoral, tapi tak pintar, itu cukup baik. Tapi yang dibutuhkan selain pintar juga bermoral, itu orang yang tidak hanya baik, tapi bernilai.

Sabtu, 08 Mei 2021

 Setiap tahun, persis setiap Ramadhan tiba, itu adalah waktu yang di tunggu tunggu. Terkhusus bagi umat Islam, karena bulan ini bulan yang ditunggu untuk meningkatkan kualitas ibadah dari setiap insan. Seperti biasanya, mulai awal Ramadhan sampai akhir Ramadhan itu penuh berkah, pun juga demikian banyak yang mengambil momen, momen berbuka bersama misalnya, mudik, silaturahmi juga momen untuk sekedar mengucapkan selamat menyambut ramadhan maupun selamat merayakan hari raya idul Fitrinya. 


Sebagai mana lazimnya, para pimpinan organisasi maupun pemerintah banyak yang mengambil momen ini untuk menyampaikan ucapan selamat Ramadhan dan idul Fitri. Dua Ramadhan belakang dunia dilanda pandemi, ajakan tidak mudikpun dikampanyekan. Tahun lalu, ajakan tidak mudik dihebohkan dengan narasi mudik dan pulang kampung berbeda. Sulit bagi saya memahami dua konotasi tersebut apa bedanya. Sampai sekarang saya belum temukan apa bedanya.

Belum selesai dengan itu, baru-baru ini muncul lagi ajakan tidak mudik dari seorang pimpinan organisasi, yang menggelitik bukan ajakan tidak mudiknya. Melainkan tambahan konotasi bahasanya yang mengajak makan makanan khas Nusantara bagi umat muslim, yang luncunya kenapa ada narasi BIPANG. Sependek yang saya tahu dari referensi yang ada, bipang itu makanan har*m. Kog bisa seorang pimpinan mengucapkan itu dalam rangka kampanye hari raya idul Fitri? Logikanya dimana. seperti biasanya semua pejabat terkait serba ngeles, juga jubir ngeles, apalagi para influenceRp dan BuzzeRp. Apa bipang yang dimaksud biji Ketapang yah, wkwk.

Sejenak kita tinggalkan soal itu, tapi ada hal yang menarik dari isu tersebut. Yakni baru-baru ini seluruh masyarakat di Indonesia dilarang mudik, namun sentral foto dan video yang beredar belakangan WNA sipit bebas keluar masuk Indonesia, satupun pejabat tidak ada yang berkomentar untuk melarang. Tidak cukup sampai disitu juga beredar hasil Tes Wawasan Kebangsaan dari sebuah lembaga yang bergengsi di republik ini, yang hasilnya sungguh lucu, pun demikian pertanyaan pada tes itu membuat kita mengelus dada. 

Apa ada hubungannya antara Bipang dan TKA bebas masuk di negeri ini atau hasil Tes Wawasan Kebangsaan. 

Semoga kita umat Islam dilindungi Allah SWT, dan semoga Allah SWT menurunkan azab bagi mereka yang memiliki niat buruk untuk negeri ini. Amin.

Jumat, 07 Mei 2021

 Belakangan ini sedang hangat isu mengenai beberapa pegawai anti rasuah di negeri yang kita cintai ini tidak lulus tes wawasan kebangsaan. Terkait sudah atau belum di umumkan hasil itu soal lain, yang jelas itu sudah jadi berita yang menarik beberapa hari terakhir. Lalu apa sebetulnya tes wawasan kebangsaan itu?


Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) menyajikan soal-soal latihan yang sudah disesuaikan dengan indikator TWK yaitu nasionalisme, integritas, bela negara, pilar negara, dan Bahasa Indonesia. Dari pengertian di atas, jelas dan clear sebetulnya apa tujuan lembaga itu mengadakan tes demikian agar penyamaan persepsi dan meningkatkan kualitas dari setiap insan yang ada di lembaga tersebut. Yang jadi pertanyaan, kenapa banyak yang tidak lulus?

Ok, sekarang kita coba berfikir dari sudut pandang yang berbeda, sebagai contoh diantara yang tidak lulus itu mereka adalah penyidik senior dan yang paling ditakutin oleh para koruptor di negeri ini, sama-sama kita ketahui mereka sedang membongkar kasus besar yang konon katanya melibatkan banyak pihak pejabat tinggi. Apakah karena demikian?

Ok, sekarang kita coba dari sudut pandang yang lebih berbeda lagi, berdasarkan informasi yang kita baca, beberapa diantara mereka adalah bekas polisi yang sedang mengabdi di lembaga tersebut. Dan pangkat mereka pun mentereng, yakni semuanya perwira. lulusan Akpol.

Nah, yang jadi pertanyaan, untuk bisa lulus Akpol itu melewati tes yang sangat ketat, bahkan disiplin banget, dan yang pasti sudah melewati tes wawasan kebangsaan. lalu kenapa orang-orang ini tidak lulus?

Selanjutnya, jika ditinjau dari materi soal tes, banyak pihak yang menyayangkan soal materi tesnya seperti main-main. Terutama dari kalangan aktivis dan akademisi.

Terakhir, banyak kejadian di negeri ini yang semakin hari semakin sulit kita berfikir secara rasional dan objektif, terkait dengan hal di atas, sebetulnya yang tidak memiliki wawasan kebangsaan itu adalah para koruptor, karena koruptor tidak mengerti tentang Pancasila, nasionalisme, bela negara apalagi integritas.

Kamis, 15 April 2021

 Akhir akhir ini banyak pemberitaan tentang indikasi terjadinya fraud, baik di pemerintahan maupun di perusahaan. Dalam hal ini, barangkali saya sedikit ingin mengulas tentang fraud. Sebenarnya apasih fraud itu? 


Fraud (kecurangan) itu sendiri secara umum merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh orang-orang dari dalam dan atau luar organisasi, dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan atau kelompoknya yang secara langsung merugikan pihak lain. 

Oleh karenanya, fraud ini sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan kehilangan integritas dari sebuah perusahaan, apalagi perusahaan keuangan. 

Masalah fraud

Sebetulnya apa sebetulnya masalah fraud ini, paling tidak ada 3. Pertama adanya peluang untuk melakukan fraud itu sendiri. Kedua kurangnya pengawasan dari internal organisasi. Ketiga ada niat dari pelaku fraud itu sendiri. Misalnya dari beberapa kasus yang banyak terjadi, itu karena adanya niat dari pelaku ditambah lagi kurang nya pengawasan. Lalu apa solusinya?

Sebetulnya banyak solusi, misalnya pola rekrutmen yang ditingkatkan, pola pendidikan di organisasi yang selalu di update, dan lain sebagainya. Namun, di era industri 4.0 sekarang ini, harusnya mitigasi itu sudah menggunakan teknologi. Misalnya menggunakan teknologi Artificial Intelegent untuk mendeteksi dini fraud. 

AI saat ini memang banyak digunakan untuk mendeteksi fraud, terutama di dunia perbankan. Dengan teknologi ini diharapkan AI bisa mendeteksi secara dini tindakan fraud, sehingga trust perusahaan semakin bisa dipercaya oleh customer.

Senin, 08 Maret 2021

Sebelum membahas lebih jauh, alangkah sebaiknya kita menyamakan persepsi dulu tentang kongres agar kita bisa memiliki pandangan yang sama.


Menurut Wikipedia Kongres adalah pertemuan besar para wakil organisasi atau pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan. Di lingkungan Islam, perhelatan ini menggunakan istilah muktamar. Lalu bagaimana dengan kongres Luar Biasa? Kongres Luar Biasa (KLB) adalah agenda pertemuan organisasi yang salah satunya bertujuan untuk memilih dan menetapkan ketua umum. Selain itu, juga meminta dan menilai Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pimpinan. Nah, lalu bagaimana menilai apakah sebuah kongres itu dinilai layak, atau abal-abal?

Untuk menjawab ini menurut saya kembali lagi ke konstitusi sebuah organisasi, biasanya sebuah organisasi memiliki konstitusi atau aturan baku dari sebuah organisasi, dalam hal ini AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga). Kenapa penting AD/ART? Karena disini lah sebuah konstitusi atau aturan main dari sebuah organisasi, baik aturan internal, mekanisme, tata tertib, maupun eksternal sebuah organisasi. 

Tata tertib dalam pelaksanaan pemilihan ketua, wakil, bendahara dan alat kelengkapan organisasi nya di rumuskan jelas dalam sebuah AD/ART pun demikian juga dengan aturan dari sebuah kongres. Sekarang kembali ke pertanyaan awal, apakah kongres abal-abal? Maka jawabannya mari kita lihat AD/ART dari sebuah organisasi tersebut mengenai dan mekanisme pelaksanan kongres. Jika sesuai dengan AD/ART dan mekanisme yang berlaku, maka kongres nya sah. Jika tidak sesuai dengan aturan AD/ART maka itu disebut dengan cacat hukum atau abal-abal.

Selasa, 13 Oktober 2020

Dikutip dari Wikipedia, Perbankan syariah atau perbankan Islam (Arab: المصرفية الإسلامية, al-Mashrafiyah al-Islamiyah) adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha yang bersifat (haram). Sistem perbankan konvensional tidak dapat menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya dalam usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau hiburan yang tidak Islami, dan lain-lain.

Dalam hal ini BPD Bank Riau Kepri atau lebih dikenal dengan Bank Riau Kepri ingin mengubah pola bisnis Bank Riau Kepri dari Bisnis Konvensional ke Bank Syariah. Dengan tujuan dan maksud tidak hanya hijrah Bersama-sama, melainkan mencari keberkahan Bersama-sama seluruh insan bank riau kepri dan masyarakat riau dan kepulauan riau khususnya serta seluruh nasabah umumnya.

Lalau kenapa digesa Menuju Syariah ?


Menggesa Menuju Syariah bermaksud untuk menyemangati girah Hijrah, menyatukan Visi, serta menyamakan persepsi seluruh pihak terutama masyarakat riau dan kepri bahwa Bank kebanggaan kita akan bertransformasi, dari konvensional ke Syariah. Dengan demikian semangat dan itikad Bersama, Datuk-datuk, datin-datin, encik, puan, tuan-tuan serta seluruh masyarakat mari kita ingat-mengingatkan, semangat-menyemangati, himbau-menghimbau agar kita terlibat dalam moment yang bersejarah ini, momen hijrah Bersama-sama menuju Bank Syariah Riau Kepri.


Kolam Inspiratif

“Teknologi informasi dan bisnis menjadi saling terjalin dengan erat. Saya tak berpikir siapa pun dapat berbicara salah satunya dengan penuh makna tanpa membicarakan satu yang lainnya”

Arsip

Flickr Images

About us

Populer

Biografi Tokoh

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie
Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan

Materi Kuliah IT

Image Retrieval
Computer Security
Riset Teknologi
Interaksi Manusia dan Komputer
Rekayasa Perangkat Lunak
Sistem Informasi
Grafika Komputer