Dulu, ketika saya menempuh pendidikan pascasarjana, ada seorang guru alumni pendidikan dari Jepang yang selalu mengingatkan satu pesan sederhana namun sangat mendalam: “Utamakan adab daripada ilmu.” Setiap kali beliau mengajar, kalimat itu selalu diulang. Saat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin bertambah usia dan pengalaman, saya semakin memahami betapa besar maknanya.
Jika kita melihat sistem pendidikan di Jepang, sejak pendidikan usia dini hingga sekolah dasar, penekanan utama bukan hanya pada kecerdasan akademik, melainkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat. Pendidikan karakter menjadi fondasi sebelum ilmu pengetahuan diberikan secara mendalam. Tidak heran jika Jepang sering menjadi rujukan dunia dalam hal pendidikan karakter.
Sesungguhnya, nilai-nilai tersebut bukan hal baru bagi kita. Dalam ajaran Islam, adab telah diajarkan jauh sebelum konsep pendidikan karakter modern berkembang. Para ulama terdahulu bahkan menempatkan adab di atas ilmu. Ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, bahkan berpotensi disalahgunakan.
Belakangan ini, dunia akademik kita diuji oleh berbagai peristiwa yang memprihatinkan. Beberapa waktu lalu, terjadi tindakan kekerasan di sebuah kampus ternama di Riau, tepat menjelang prosesi ujian akademik. Saya menyebutnya sebagai tindakan keji bukan untuk menghakimi atau mengabaikan asas praduga tak bersalah, melainkan karena tindakan kekerasan—dalam bentuk apa pun—tidak memiliki tempat di lingkungan akademik. Kampus adalah ruang menuntut ilmu, tempat bertumbuh, berdiskusi, dan mengembangkan potensi diri. Kekerasan dan teror jelas bertentangan dengan nilai luhur pendidikan.
Coba bayangkan jika korban adalah saudara kita, keluarga kita, atau bahkan diri kita sendiri. Tentu kita akan merasakan betapa tidak dapat diterimanya peristiwa tersebut. Karena itu, refleksi ini penting: ada yang perlu kita perkuat kembali dalam dunia pendidikan kita, yaitu adab dan karakter.
Masa remaja dan masa kuliah adalah fase emas kehidupan. Pada masa inilah kita memiliki waktu, energi, dan kesempatan yang luas untuk:
- Mengembangkan potensi diri
- Aktif berorganisasi untuk membangun relasi dan jejaring
- Mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal
- Belajar dari kesalahan dan terus bertumbuh
Setiap kesempatan yang kita ambil sejatinya adalah investasi untuk masa depan. Ketika persiapan bertemu dengan kesempatan, di situlah lahir golden moment—momen emas menuju kesuksesan.
Namun ingatlah, kesuksesan sejati bukan hanya tentang gelar, jabatan, atau kekayaan. Kesuksesan adalah ketika ilmu yang kita miliki membawa manfaat, bukan mudarat. Ketika keberhasilan kita tidak melukai orang lain. Ketika posisi yang kita capai tetap dibingkai oleh integritas dan empati.
Kini, ketika saya diamanahkan menjadi seorang dosen, pesan itulah yang selalu saya sampaikan kepada mahasiswa:
"Dalam hidup, adab lebih utama daripada ilmu.
Karakter lebih penting daripada jabatan dan kekayaan."
Ilmu bisa membuat seseorang pintar.
Adab membuat seseorang pantas dihormati.
Ilmu membuka pintu kesempatan.
Karakter menjaga kita tetap layak berada di dalamnya.
Untuk Generasi Z—generasi yang hidup di era digital, serba cepat, dan penuh distraksi—tantangan terbesar bukan hanya menjadi cerdas, tetapi menjadi bijak. Bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan moral.
Mari kita bangun budaya akademik yang sehat: saling menghormati, berdialog dengan santun, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, dan berkompetisi tanpa menjatuhkan.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.
Dunia membutuhkan orang-orang berkarakter.


0 komentar:
Posting Komentar