Kamis, 26 Februari 2026

Dulu, ketika saya menempuh pendidikan pascasarjana, ada seorang guru alumni pendidikan dari Jepang yang selalu mengingatkan satu pesan sederhana namun sangat mendalam: “Utamakan adab daripada ilmu.” Setiap kali beliau mengajar, kalimat itu selalu diulang. Saat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin bertambah usia dan pengalaman, saya semakin memahami betapa besar maknanya.


Jika kita melihat sistem pendidikan di Jepang, sejak pendidikan usia dini hingga sekolah dasar, penekanan utama bukan hanya pada kecerdasan akademik, melainkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat. Pendidikan karakter menjadi fondasi sebelum ilmu pengetahuan diberikan secara mendalam. Tidak heran jika Jepang sering menjadi rujukan dunia dalam hal pendidikan karakter.

Sesungguhnya, nilai-nilai tersebut bukan hal baru bagi kita. Dalam ajaran Islam, adab telah diajarkan jauh sebelum konsep pendidikan karakter modern berkembang. Para ulama terdahulu bahkan menempatkan adab di atas ilmu. Ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, bahkan berpotensi disalahgunakan.

Belakangan ini, dunia akademik kita diuji oleh berbagai peristiwa yang memprihatinkan. Beberapa waktu lalu, terjadi tindakan kekerasan di sebuah kampus ternama di Riau, tepat menjelang prosesi ujian akademik. Saya menyebutnya sebagai tindakan keji bukan untuk menghakimi atau mengabaikan asas praduga tak bersalah, melainkan karena tindakan kekerasan—dalam bentuk apa pun—tidak memiliki tempat di lingkungan akademik. Kampus adalah ruang menuntut ilmu, tempat bertumbuh, berdiskusi, dan mengembangkan potensi diri. Kekerasan dan teror jelas bertentangan dengan nilai luhur pendidikan.

Coba bayangkan jika korban adalah saudara kita, keluarga kita, atau bahkan diri kita sendiri. Tentu kita akan merasakan betapa tidak dapat diterimanya peristiwa tersebut. Karena itu, refleksi ini penting: ada yang perlu kita perkuat kembali dalam dunia pendidikan kita, yaitu adab dan karakter.

Masa remaja dan masa kuliah adalah fase emas kehidupan. Pada masa inilah kita memiliki waktu, energi, dan kesempatan yang luas untuk:

  • Mengembangkan potensi diri
  • Aktif berorganisasi untuk membangun relasi dan jejaring
  • Mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal
  • Belajar dari kesalahan dan terus bertumbuh

Setiap kesempatan yang kita ambil sejatinya adalah investasi untuk masa depan. Ketika persiapan bertemu dengan kesempatan, di situlah lahir golden moment—momen emas menuju kesuksesan.

Namun ingatlah, kesuksesan sejati bukan hanya tentang gelar, jabatan, atau kekayaan. Kesuksesan adalah ketika ilmu yang kita miliki membawa manfaat, bukan mudarat. Ketika keberhasilan kita tidak melukai orang lain. Ketika posisi yang kita capai tetap dibingkai oleh integritas dan empati.

Kini, ketika saya diamanahkan menjadi seorang dosen, pesan itulah yang selalu saya sampaikan kepada mahasiswa:

"Dalam hidup, adab lebih utama daripada ilmu.

Karakter lebih penting daripada jabatan dan kekayaan."


Ilmu bisa membuat seseorang pintar.

Adab membuat seseorang pantas dihormati.

Ilmu membuka pintu kesempatan.

Karakter menjaga kita tetap layak berada di dalamnya.

Untuk Generasi Z—generasi yang hidup di era digital, serba cepat, dan penuh distraksi—tantangan terbesar bukan hanya menjadi cerdas, tetapi menjadi bijak. Bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan moral.

Mari kita bangun budaya akademik yang sehat: saling menghormati, berdialog dengan santun, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, dan berkompetisi tanpa menjatuhkan.

Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.

Dunia membutuhkan orang-orang berkarakter.

Rabu, 05 November 2025

Sebagai anak jati Melayu, hati kami terasa hancur melihat negeri yang kami cintai—Riau—kembali tercoreng oleh kasus korupsi. Ketika Gubernur Riau Abdul Wahid dan rekan-rekannya terjaring operasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bukan hanya nama beliau yang tercoreng, tapi juga marwah negeri beradat ini ikut tercabik-cabik.

Kami, orang Melayu Riau, diajarkan sejak kecil bahwa adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Dalam ajaran itu, kejujuran dan amanah adalah tiang marwah seseorang. Pemimpin itu harus menjadi contoh, bukan perusak kepercayaan rakyat. Tapi apa daya, kenyataannya lagi-lagi kami dipaksa menunduk malu—bukan karena kami turut bersalah, tapi karena pemimpin yang kami harapkan menjaga negeri justru menodainya.

Padahal, Riau bukan negeri sembarangan. Dari tanah ini lahir banyak ulama besar yang membawa cahaya Islam ke pelosok Nusantara. Dari negeri ini pula berdiri Kesultanan Melayu yang beradab dan berilmu. Sultan-sultan kami dulu bahkan menyerahkan harta dan tahta demi melihat Indonesia merdeka—karena bagi kami, kehormatan bangsa lebih tinggi dari kekuasaan pribadi. Itulah warisan luhur kami.

Maka, jangan ada yang berani menyebut Riau sebagai negeri koruptor! Kami bukan negeri koruptor. Koruptor itu ada di mana-mana, tapi kami, anak negeri beradat, menolaknya dengan tegas. Kami malu, kami marah, tapi di atas semua itu, kami sadar bahwa marwah Melayu harus dijaga.

Riau ini negeri kaya. Minyak bumi dan minyak sawit mengalir dari tanahnya, tapi kekayaan itu belum tentu menandakan kemuliaan bila moral pemimpinnya rapuh. Kami tak butuh pemimpin yang pandai berbicara manis di depan rakyat tapi mencuri di belakang meja. Kami butuh pemimpin yang amanah, yang takut kepada Allah, yang menjaga marwah negeri seperti menjaga dirinya sendiri.

Cukuplah sudah Riau dipermalukan oleh mereka yang haus kekuasaan. Saatnya kita, rakyat Riau, berdiri dan bersuara: kami tidak akan diam lagi. Kami ingin negeri ini bersih, beradab, dan bermarwah seperti ajaran nenek moyang kami.

Karena kami anak Melayu, dan anak Melayu tak akan bersekutu dengan pengkhianat amanah. Kami anti dengan koruptor.

Rabu, 10 September 2025

Beberapa waktu terakhir, demonstrasi besar kembali mengguncang jalanan Nepal. Ribuan warga—kebanyakan anak muda—turun ke jalan, marah dan muak terhadap pemimpin mereka yang dinilai gagal, korup, dan hidup dalam kemewahan di tengah kesengsaraan rakyat. Gaya hidup hedonis, flexing kekuasaan, dan ketidakpekaan terhadap krisis ekonomi memicu gelombang protes yang tak bisa dibendung. Nepal kembali terjerumus dalam ketidakstabilan politik dan sosial.

Apa yang terjadi di Nepal bukanlah hal yang unik. Justru, ini adalah cermin yang mengarah lurus ke wajah Indonesia hari ini.

Ketika Rakyat Tak Lagi Tahan Melihat Pemimpin Hidup dalam Kemewahan

Nepal selama beberapa tahun terakhir dikecewakan oleh elite politik yang sibuk memperkaya diri sendiri, bukan memperbaiki nasib rakyat. Ketimpangan merajalela, pengangguran tinggi, dan harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Di tengah itu semua, gaya hidup elite yang memamerkan mobil mewah, rumah megah, dan pesta-pesta eksklusif menjadi bahan bakar kemarahan publik.

Demonstrasi pun meledak. Istana dikepung. Kepercayaan publik runtuh.

Tragisnya, sebagian pemimpin di Nepal bahkan seolah hidup di dunia lain—mengabaikan sinyal bahaya yang datang dari rakyat sendiri.

Tanda-Tanda Itu Sudah Terlihat

Indonesia seharusnya tidak merasa aman-aman saja. Gejala serupa mulai muncul di sini. Ketika rakyat bergelut dengan kenaikan harga beras, susah mencari kerja, dan akses pendidikan makin mahal, sebagian elite justru sibuk pamer kekayaan, dari mobil listrik puluhan miliar, jam tangan ratusan juta, hingga liburan mewah ke luar negeri.

Bahkan, di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi publik, muncul tren baru: flexing kekuasaan. Jabatan publik dipamerkan seperti medali, bukan amanah. Gaya hidup pejabat dan anak-anaknya menjadi bahan olok-olok dan kemarahan netizen, tapi pemerintah seolah tidak mendengar.

Dan ketika kritik disampaikan, justru rakyat yang dikriminalisasi.

Demonstrasi di Indonesia Bukan Lagi Soal Isu Tunggal

Aksi-aksi protes di Indonesia, baik yang dilakukan mahasiswa, buruh, petani, maupun masyarakat adat, bukan lagi sekadar soal kebijakan tertentu. Di balik semua itu, ada akumulasi kekecewaan: terhadap ketimpangan, terhadap ketidakadilan, dan terhadap gaya kepemimpinan yang kehilangan empati.

Jika kita tidak hati-hati, Indonesia bisa mengarah ke titik yang sama seperti Nepal: kehilangan kepercayaan publik, munculnya krisis sosial, dan instabilitas politik yang panjang.

Pemimpin Harus Jadi Contoh, Bukan Simbol Kemewahan

Nepal membuktikan bahwa gaya hidup elite yang tidak berpihak pada rakyat akan berujung krisis. Indonesia seharusnya belajar dari itu. Pemimpin bukan hanya dinilai dari kebijakan di atas kertas, tapi juga dari gaya hidup dan nilai-nilai yang mereka tunjukkan ke publik.

Di tengah kesenjangan ekonomi dan tekanan hidup, rakyat butuh pemimpin yang hidup sederhana, yang hadir di tengah mereka, yang tidak menjadikan jabatan sebagai panggung, tetapi sebagai tanggung jawab.

Arah Indonesia Ditentukan Hari Ini

Kita bisa menunggu sampai kemarahan rakyat memuncak seperti di Nepal. Tapi itu adalah pilihan yang ceroboh. Lebih bijak jika kita melihat demonstrasi di Nepal sebagai peringatan dini—bahwa arah Indonesia harus dikoreksi sekarang, bukan nanti.

Pemimpin Indonesia harus memilih: menjadi simbol harapan rakyat atau menjadi simbol krisis yang akan dikenang dengan kemarahan.

Kamis, 28 Agustus 2025

Di atas kertas, Indonesia disebut sebagai negara hukum dan demokrasi. Namun dalam praktiknya, hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil, tapi justru menguntungkan segelintir elite politik dan korporasi besar. Janji keadilan sosial tinggal slogan kosong, diucapkan setiap musim kampanye, lalu dilupakan begitu kekuasaan berada di tangan.

Ekonomi pun tak kalah kacau. Harga kebutuhan pokok melonjak, lapangan kerja kian sempit, dan ketimpangan semakin menganga. Rakyat dipaksa bertahan hidup dalam sistem yang memiskinkan mereka secara struktural, sementara para pejabat sibuk merayakan proyek-proyek besar yang tidak menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Di satu sisi rakyat diminta hidup sederhana, di sisi lain anggaran dihamburkan demi citra dan kepentingan politik.

Aparatur penguasa, yang seharusnya melayani rakyat, justru sering bersikap sewenang-wenang. Kritik dibungkam, suara-suara yang menyuarakan kebenaran dianggap ancaman, dan hukum digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan alat keadilan. Ketika kekuasaan lebih sibuk menjaga kenyamanannya sendiri daripada mendengar jeritan rakyat, kita tahu bahwa demokrasi kita sedang sakit.

Namun semua ini bukan akhir. Masih ada jalan keluar
asal kita mau melihat lebih jernih dan bergerak bersama. Solusinya bukan tambal sulam, tapi perombakan menyeluruh dan terstruktur:

  • Perbaikan sistem demokrasi yang berkeadilan, di mana suara rakyat benar-benar dihargai, bukan hanya dijadikan angka pemilu. Transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas pejabat harus menjadi prinsip utama dalam pemerintahan.
  • Perbaikan ekonomi yang terstruktur dan inklusif, yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. Kebijakan fiskal dan anggaran harus berpihak pada pengentasan kemiskinan, pembangunan UMKM, dan kemandirian desa.
  • Pendidikan yang berkompetensi dan relevan, bukan sekadar penghafalan tanpa makna. Pendidikan harus membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman, bukan hanya menjadi pekerja dalam sistem yang timpang.

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar tapi sering kekurangan keberanian untuk berubah. Dan perubahan tidak datang dari atas, tapi dari bawah: dari rakyat yang sadar, bersatu, dan menolak tunduk pada sistem yang timpang.

Selasa, 19 Agustus 2025

Dalam setiap langkah menuju kemajuan, selalu ada tantangan. Namun, di balik setiap tantangan, ada peluang untuk tumbuh. Itulah yang kami rasakan sebagai bagian dari BRK Syariah, khususnya dalam pengembangan layanan QRIS.

Pada tanggal 10 Agustus 2025, saya melakukan transaksi di salah satu swalayan besar, TOP 100. Saat hendak membayar, saya menyampaikan kepada kasir bahwa saya ingin menggunakan QRIS dengan sumber dana dari BRK Syariah. Respons kasir cukup jujur: "BRK Syariah tak bisa pakai QRIS, sering bermasalah."Saya memahami keraguan itu. Mungkin sebelumnya memang pernah terjadi kendala. Tapi inilah saatnya untuk menunjukkan bahwa kami telah berbenah dan terus berkembang. Maka saya katakan: "Saya coba dulu ya menggunakan BRK Syariah. Kalau gagal, saya yang tanggung jawab."

Kasir akhirnya setuju, dengan catatan jika gagal, komplain ditujukan ke BRK Syariah, bukan ke swalayan. Saya setuju. Saya scan kode QR QRIS yang diterbitkan dari mesin EDC, konfirmasi tagihan, dan... transaksi berhasil. Tidak ada kendala. Lancar.

Setelahnya saya sampaikan kepada kasir, "Jika ke depannya ada kendala, bisa disampaikan ke saya. Saya bagian dari tim pengembangan QRIS BRK Syariah. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada BRK Syariah."

  • Setiap inovasi butuh waktu dan kesempatan. Tidak semua layanan langsung sempurna. Tapi dengan dukungan dan ruang untuk mencoba, kualitas akan terus meningkat.
  • Edukasi penting. Tidak semua kendala berasal dari sistem. Bisa jadi dari pemahaman, persepsi, atau kebiasaan lama. Di sinilah komunikasi berperan penting.
  • Kolaborasi adalah kunci. Antara penyedia layanan, merchant, dan konsumen. Ketika semua pihak membuka diri, solusi lebih mudah ditemukan.

Kami di BRK Syariah tidak sekadar ingin menjadi pilihan, tapi menjadi bagian dari ekosistem keuangan digital yang inklusif dan handal. QRIS hanyalah satu pintu dari banyak inovasi yang sedang kami bangun. Namun untuk itu, kami butuh dukungan, masukan, dan kesempatan dari Anda.

Karena setiap institusi lokal yang diberi kesempatan, bisa tumbuh menjadi kebanggaan nasional.

Beri kami kesempatan untuk tumbuh dan berkembang

Selasa, 16 Januari 2024

Solusi parkir kota Pekanbaru yang diterapkan mencakup inovasi teknologi dan pengelolaan yang efisien. Dengan menggabungkan beberapa elemen, sistem ini diharapkan dapat memberikan pengalaman parkir yang lebih baik bagi masyarakat dan meningkatkan pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Berikut adalah deskripsi solusi tersebut:


Integrasi Kode QR dengan Bank:

Sistem parkir kota Pekanbaru akan menyediakan layanan menggunakan kode QR yang terintegrasi dengan berbagai bank lokal. Petugas parkir akan dilengkapi dengan perangkat pemindai QR yang memungkinkan pembayaran langsung melalui aplikasi perbankan, memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi dengan cepat dan mudah.

Pembayaran Parkir Non Tunai (QRIS):

Solusi ini mengadopsi pembayaran parkir non tunai dengan menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Dengan memanfaatkan teknologi ini, masyarakat dapat membayar parkir melalui aplikasi pembayaran digital, kartu debit, atau kartu kredit, menciptakan sistem yang lebih modern dan efisien.

Dashboard Monitoring Realtime:

Dibuatlah sebuah dashboard monitoring yang memungkinkan pemerintah daerah untuk melacak aktivitas petugas parkir dan transaksi parkir secara realtime. Informasi ini dapat membantu pengambilan keputusan yang cepat dan akurat terkait dengan pengelolaan parkir dan keuangan kota.

Pembayaran Tidak Tunai untuk Kas Daerah:

Solusi ini mengeliminasi pembayaran tunai sepenuhnya, sehingga setiap transaksi parkir langsung masuk ke kas pemerintah daerah. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan, tetapi juga mengurangi risiko kehilangan pendapatan karena kesalahan atau kecurangan.

Penertiban Petugas Parkir:

Melalui dashboard monitoring, pemerintah daerah dapat menertibkan petugas parkir yang tidak terdaftar atau tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Ini menciptakan kontrol yang lebih ketat dalam pengelolaan sumber daya manusia dan meningkatkan kualitas layanan parkir di kota.

Solusi parkir ini tidak hanya memberikan kemudahan dalam bertransaksi bagi masyarakat, tetapi juga meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan parkir kota Pekanbaru.

Minggu, 07 Januari 2024

Pertama-tama, dalam debat Capres 2024, isu keamanan cyber menjadi salah satu fokus utama, setidak - tidaknya dengan mengedepankan empat pilar strategis untuk mengatasi tantangan keamanan digital yang semakin kompleks. Berikut saya coba sampaikan analisis sederhana terkait aspek-aspek tersebut:


Update dan Tingkatkan Semua Software

Kandidat Capres berkomitmen untuk menghadirkan era baru keamanan cyber dengan memprioritaskan pembaruan dan peningkatan perangkat lunak secara berkala. Dengan menyadari bahwa kelemahan keamanan sering kali terletak pada versi perangkat lunak yang ketinggalan zaman, pemerintahan baru harus mengimplementasikan kebijakan yang mewajibkan semua entitas, baik pemerintah maupun swasta, untuk secara rutin mengupdate perangkat lunak mereka. Hal ini tidak hanya melibatkan sistem operasi dan aplikasi utama, tetapi juga perangkat lunak keamanan untuk menjaga ketahanan terhadap ancaman terbaru.

Batasi Akses Kontrol Akun

Dalam upaya untuk mencegah akses yang tidak sah dan mengurangi risiko serangan dari dalam, pemerintahan baru harus menerapkan kebijakan ketat terkait dengan kontrol akses akun. Ini termasuk penerapan prinsip least privilege, di mana setiap akun hanya memiliki akses yang diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya. Sistem otentikasi yang kuat dan pengelolaan identitas yang cermat akan menjadi prioritas, menjadikan keamanan akun sebagai lapisan pertahanan yang krusial.

Buat Rencana Pemulihan Sistem yang Komprehensif

Kandidat Capres harus menyoroti pentingnya kesiapan dalam menghadapi serangan cyber dengan merumuskan rencana pemulihan sistem yang komprehensif. Rencana ini mencakup langkah-langkah darurat, prosedur pemulihan data, dan rencana komunikasi yang efektif untuk menjaga kontinuitas operasional. Pemulihan yang cepat dan efisien menjadi kunci dalam mengatasi dampak serangan, sehingga organisasi dapat segera pulih dan melanjutkan kegiatan normal.

Instal Firewall dan Perangkat Lunak Antivirus

Kandidat Capres harus menegaskan komitmennya untuk melindungi infrastruktur digital dengan penerapan teknologi keamanan yang andal. Ini mencakup instalasi firewall yang canggih untuk memantau dan mengelola lalu lintas data, serta perangkat lunak antivirus yang terkini untuk mendeteksi dan menghapus ancaman malware. Selain itu, akan ada investasi yang signifikan dalam penelitian dan pengembangan untuk memastikan bahwa perangkat lunak keamanan terus beradaptasi dengan ancaman yang berkembang.

Dengan empat pilar strategis ini, mudah-mudahan sedikit memberikan tujuan untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan dapat diandalkan, menjadikan keamanan cyber sebagai prioritas utama untuk melindungi kepentingan pertahanan nasional dan masyarakat secara keseluruhan.

Kolam Inspiratif

“Teknologi informasi dan bisnis menjadi saling terjalin dengan erat. Saya tak berpikir siapa pun dapat berbicara salah satunya dengan penuh makna tanpa membicarakan satu yang lainnya”

Arsip

Flickr Images

About us

Populer

Biografi Tokoh

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie
Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan

Materi Kuliah IT

Image Retrieval
Computer Security
Riset Teknologi
Interaksi Manusia dan Komputer
Rekayasa Perangkat Lunak
Sistem Informasi
Grafika Komputer