Ada sebuah sistem yang konon sangat menghargai prestasi. Semua orang diberi kesempatan untuk berkembang, karier dibangun berdasarkan kinerja, dan promosi diberikan kepada mereka yang dianggap paling layak. Setidaknya demikian bunyi narasinya.Dalam praktiknya, ternyata ada mata pelajaran tambahan yang tidak pernah tertulis dalam penilaian kinerja: ilmu membaca kedekatan.
Di sini, bekerja dengan baik memang penting. Tetapi mengetahui siapa yang harus didekati tampaknya jauh lebih penting. Kompetensi tetap diperlukan, tentu saja. Minimal untuk membuat keputusan terlihat masuk akal. Selebihnya, kedekatan bisa membantu mempercepat proses. Maka tidak mengherankan jika ada orang yang bertahun-tahun mengumpulkan prestasi, pengalaman, dan tanggung jawab, tetapi masih harus antre di belakang seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menjaga hubungan dengan orang-orang yang tepat.Bukan berarti ada yang salah dengan hubungan baik. Justru hubungan baik sangat penting. Hanya saja, jika hubungan baik mulai menjadi ukuran utama kelayakan, mungkin istilah merit system perlu diperbarui menjadi "merit, plus siapa kenal siapa."
Menariknya lagi, di dalam sistem seperti ini selalu muncul kelompok dengan kemampuan khusus. Mereka tidak selalu menjadi orang yang paling produktif, tetapi sangat memahami seni membuat atasan merasa bahwa dirinya adalah orang paling penting di ruangan. Pujian diberikan pada waktu yang tepat. Persetujuan datang sebelum pertanyaan selesai. Ide atasan selalu menarik. Keputusan atasan selalu strategis. Bahkan mungkin suatu hari kesalahan atasan pun bisa disebut sebagai "strategi pembelajaran".
Kemampuan seperti ini tentu tidak bisa dianggap remeh.
Tidak semua orang mampu mengubah kebiasaan mengangguk menjadi kompetensi kepemimpinan.
Sementara itu, orang-orang yang masih percaya bahwa pekerjaan seharusnya berbicara melalui hasil mulai terlihat seperti kelompok yang kurang memahami permainan. Mereka terlalu sibuk bekerja, terlalu banyak bertanya tentang alasan, dan terlalu percaya bahwa prestasi akan berbicara dengan sendirinya. Sayangnya, prestasi memang bisa berbicara.
Tetapi rupanya ia tidak selalu punya akses masuk ke ruang tempat keputusan dibuat.
Di sisi lain, kepemimpinan pun memiliki definisi yang semakin menarik. Pemimpin yang baik seharusnya mampu memilih orang berdasarkan kemampuan, memberi ruang kepada kritik, dan memastikan keputusan dapat dipertanggungjawabkan. Namun dalam sistem yang kurang sehat, kepemimpinan kadang berubah menjadi seni menjaga kenyamanan.
Jangan terlalu banyak bertanya.
Jangan terlalu kritis.
Jangan membuat orang tertentu merasa tersinggung.
Dan yang paling penting, pastikan semua orang tetap terlihat bahagia meskipun sebagian sudah diam-diam bertanya-tanya, "Sebenarnya ukuran untuk maju di sini apa?" Pertanyaan itu tentu tidak perlu dijawab terlalu serius. Sebab jawaban resminya selalu sama: kinerja, kompetensi, integritas, dan profesionalisme.
Jawaban tidak resminya mungkin lebih sederhana: tergantung Anda berdiri di sebelah siapa.
Yang paling lucu adalah ketika kondisi seperti ini kemudian menghasilkan orang-orang yang sangat ahli berbicara tentang budaya, nilai, integritas, dan keadilan.





