Di atas kertas, Indonesia disebut sebagai negara hukum dan demokrasi. Namun dalam praktiknya, hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil, tapi justru menguntungkan segelintir elite politik dan korporasi besar. Janji keadilan sosial tinggal slogan kosong, diucapkan setiap musim kampanye, lalu dilupakan begitu kekuasaan berada di tangan.
Ekonomi pun tak kalah kacau. Harga kebutuhan pokok melonjak, lapangan kerja kian sempit, dan ketimpangan semakin menganga. Rakyat dipaksa bertahan hidup dalam sistem yang memiskinkan mereka secara struktural, sementara para pejabat sibuk merayakan proyek-proyek besar yang tidak menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Di satu sisi rakyat diminta hidup sederhana, di sisi lain anggaran dihamburkan demi citra dan kepentingan politik.
Aparatur penguasa, yang seharusnya melayani rakyat, justru sering bersikap sewenang-wenang. Kritik dibungkam, suara-suara yang menyuarakan kebenaran dianggap ancaman, dan hukum digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan alat keadilan. Ketika kekuasaan lebih sibuk menjaga kenyamanannya sendiri daripada mendengar jeritan rakyat, kita tahu bahwa demokrasi kita sedang sakit.
Namun semua ini bukan akhir. Masih ada jalan keluar
asal kita mau melihat lebih jernih dan bergerak bersama. Solusinya bukan tambal sulam, tapi perombakan menyeluruh dan terstruktur:
- Perbaikan sistem demokrasi yang berkeadilan, di mana suara rakyat benar-benar dihargai, bukan hanya dijadikan angka pemilu. Transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas pejabat harus menjadi prinsip utama dalam pemerintahan.
- Perbaikan ekonomi yang terstruktur dan inklusif, yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. Kebijakan fiskal dan anggaran harus berpihak pada pengentasan kemiskinan, pembangunan UMKM, dan kemandirian desa.
- Pendidikan yang berkompetensi dan relevan, bukan sekadar penghafalan tanpa makna. Pendidikan harus membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman, bukan hanya menjadi pekerja dalam sistem yang timpang.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar tapi sering kekurangan keberanian untuk berubah. Dan perubahan tidak datang dari atas, tapi dari bawah: dari rakyat yang sadar, bersatu, dan menolak tunduk pada sistem yang timpang.
0 komentar:
Posting Komentar