Menjadi serikat pekerja tentu tidak mudah. Apalagi kalau harus memperjuangkan kepentingan pekerja sekaligus menjaga hubungan baik dengan manajemen. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan luar biasa: berbicara atas nama pekerja, tetapi jangan sampai membuat manajemen merasa sedang diajak bicara.
Idealnya, serikat pekerja memang menjadi jembatan antara pekerja dan perusahaan. Namanya juga jembatan, tentu harus berdiri di tengah. Tidak terlalu condong ke satu sisi, apalagi sampai lupa bahwa di ujung satunya ada pekerja yang sedang menunggu untuk diseberangkan.
Menariknya, dalam praktik hubungan industrial, terkadang ada serikat yang begitu cepat memahami sudut pandang manajemen. Bahkan sebelum pekerja selesai menyampaikan keluhan, jawabannya sudah tersedia: “Kita harus memahami kondisi perusahaan.”
Sungguh luar biasa.
Pekerja baru bertanya, serikat sudah menjelaskan alasan perusahaan. Pekerja baru mengeluh, serikat sudah menyampaikan pentingnya efisiensi. Pekerja baru meminta kejelasan, serikat sudah membantu menerjemahkan kebijakan manajemen menjadi sesuatu yang terdengar sangat masuk akal.
Kalau terus begini, mungkin suatu hari pekerja tidak perlu lagi bertemu manajemen.
Cukup bertemu serikat.
Tentu saja, memahami kondisi perusahaan adalah hal yang baik. Bagaimanapun, pekerja dan perusahaan berada dalam satu ekosistem. Perusahaan sehat, pekerja juga punya ruang untuk berkembang.
Namun, sesekali mungkin tidak ada salahnya serikat juga mencoba memahami kondisi pekerja.
Karena kalau setiap kebijakan perusahaan selalu dianggap benar, setiap keberatan dianggap kurang memahami situasi, dan setiap kritik dianggap mengganggu keharmonisan, kita mungkin perlu membuat definisi baru tentang istilah “independensi serikat pekerja.”
Bukan berarti serikat harus selalu berseberangan dengan manajemen. Tidak juga.
Serikat yang baik bukanlah serikat yang hobinya berkata “tidak”. Tetapi rasanya juga agak unik kalau jawabannya selalu “iya”.
Sebab, dalam hubungan industrial yang sehat, serikat pekerja bukanlah lawan perusahaan, tetapi juga bukan tim komunikasi perusahaan.
Serikat adalah mitra yang sesekali boleh berbeda pendapat.
Bahkan, kalau suatu hari serikat menyampaikan kritik kepada manajemen, semoga tidak dianggap sebagai bentuk ketidakloyalan. Barangkali itu justru tanda bahwa serikat masih menjalankan fungsi utamanya.
Lagipula, kalau serikat pekerja sudah terlalu pandai menjelaskan mengapa kebijakan manajemen itu baik, jangan-jangan yang perlu diperjuangkan berikutnya adalah jabatan baru: “Juru Bicara Manajemen dari Unsur Pekerja.”
Tentu saja ini hanya satire.
Selebihnya, biarlah anggota pekerja sendiri yang menilai: apakah suara yang mereka dengar masih suara mereka, atau sudah terlalu nyaman menggunakan mikrofon milik pihak lain.


0 komentar:
Posting Komentar